Semua artikel

Cara membaca kurva pertumbuhan anak

Terbit 25 Oktober 2026

Kurva pertumbuhan membantu Anda melihat bagaimana berat badan, panjang atau tinggi badan, dan lingkar kepala anak bertambah dari waktu ke waktu. Di Indonesia, acuannya adalah Standar Antropometri Anak dalam Permenkes No. 2 Tahun 2020, yang mengikuti standar pertumbuhan WHO untuk anak usia 0–5 tahun dan referensi WHO 2007 untuk anak usia 5–18 tahun.

Grafik yang dipakai

Permenkes 2/2020 memakai empat indeks:

  • Berat badan menurut umur (BB/U): berat badan dibandingkan dengan umur anak.
  • Panjang atau tinggi badan menurut umur (PB/U atau TB/U): pertambahan panjang atau tinggi badan sesuai umurnya.
  • Berat badan menurut panjang atau tinggi badan (BB/PB atau BB/TB): apakah berat badan sesuai dengan panjang atau tinggi badannya.
  • Indeks massa tubuh menurut umur (IMT/U).

Satu grafik saja tidak menceritakan semuanya. Permenkes 2/2020 menjelaskan bahwa penilaian status gizi perlu melihat seluruh indeks yang ada, dan berat badan menurut umur yang rendah perlu dikonfirmasi dengan indeks lain.

Arti garis-garis di grafik

Garis di tengah adalah median. Garis-garis lain adalah garis Z-score atau simpangan baku (SD), misalnya −2 SD dan +2 SD. Permenkes 2/2020 memakai garis-garis ini sebagai ambang batas kategori; penilaian dan tindak lanjutnya dilakukan oleh tenaga kesehatan.

Menurut Permenkes 2/2020, sebagian besar anak tumbuh mengikuti satu "jalur" yang kurang lebih sejajar dengan garis median. Jalur itu bisa berada di atas atau di bawah median.

Satu titik saja tidak cukup

Permenkes 2/2020 menyebut penilaian pertumbuhan sebagai proses yang berkelanjutan, bukan potret satu titik. Karena itu, yang dilihat adalah arah garis pertumbuhan anak dari beberapa pengukuran. Beberapa keadaan yang perlu diperhatikan menurut Permenkes 2/2020:

  • garis pertumbuhan anak memotong salah satu garis Z-score;
  • garis pertumbuhan naik atau turun secara tajam;
  • garis pertumbuhan terus mendatar, misalnya berat badan tidak bertambah.

Bila Anda melihat salah satu keadaan ini, bicarakan dengan tenaga kesehatan di Posyandu atau Puskesmas. Buku KIA juga mengajak orang tua membawa anak ke Posyandu atau fasilitas kesehatan setiap bulan untuk memantau pertumbuhan.

Cara mengukur memengaruhi hasil

  • Anak usia 0–24 bulan diukur panjang badannya sambil berbaring. Bila diukur berdiri, Permenkes 2/2020 menambahkan 0,7 cm pada hasilnya.
  • Anak di atas 24 bulan diukur tinggi badannya sambil berdiri. Bila diukur berbaring, hasilnya dikurangi 0,7 cm.
  • Umur dihitung dalam bulan penuh. Anak berumur 2 bulan 29 hari dihitung 2 bulan.

Mencatat di Bayikia

Di Bayikia, Anda mencatat berat, panjang atau tinggi badan beserta cara mengukurnya, dan lingkar kepala. Bayikia menggambar titik-titik itu di kurva WHO, menyesuaikan 0,7 cm bila cara mengukurnya berbeda, dan menampilkan rincian perhitungannya bila Anda ingin melihatnya. Bayikia tidak mendiagnosis; hasilnya bisa Anda tunjukkan ke tenaga kesehatan.

Artikel ini berisi informasi umum dari sumber resmi dan bukan pengganti pemeriksaan oleh tenaga kesehatan. Bila Anda khawatir dengan kondisi anak, periksakan ke tenaga kesehatan.

Sumber

  1. Peraturan Menteri Kesehatan No. 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak Kementerian Kesehatan RI · diakses 19 Oktober 2026
  2. Buku Kesehatan Ibu dan Anak (Buku KIA), cetakan 2025 Kementerian Kesehatan RI · diakses 22 Oktober 2026